Identifikasi Puisi "AKU"

Selasa, 19 Januari 2016
Assalamualaikum WR,WB.

Puisi merupakan suatu karya sastra yang tertulis dimana bahasa yang digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tamabahan, atau selain arti semantiknya. Namun kali ini saya akan membagikan contoh identifikasi puisi yang berjudul AKU, silahkan di pahami.

"AKU"
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari lari
Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
                                                                                                                                                                Maret, 1943.

Indentifikasi puisi:
1.       Tema puisi “AKU”  menggambarkan semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Seperti pada baris keempat dan kelima,”biar peluru menembus kulitku” dan ”aku tetap meradang menerjang”.
2.       Nada puisi “AKU” terdapat kata “tidak juga kau”, kau yang dimaksud dalam kutipan diatas adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini. Ini menunjukan betapa tidak pedulinya chairil dengan semua orang yang pernah mendengar ataupun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk. Dalam puisi terdapat pesan lain dari chairil, bahwa manusia itu adalah mahluk yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia.
3.       Rasa merupakan ekspresi jiwa penyair yang menginginkan kebebasan dari semua ikatan. Disana penyair tidak mau meniru atau menyatakan kenyataan alam, tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin berkreasi. Sikap jiwa “jika sampai waktunya”, berarti ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapun yang terjadi, ia ingin sebebas-bebasnya sebagai “aku”.
4.       Amanat dalam puisi “AKU” yaitu:
·         Manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun rintangan menghadang.
·         Manusia harus mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannya
·         Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikirn dan semangatnya itu dapat hidup selma-lamanya.
5.       Diksi pada baris kedua bait pertama “ku mau tak seorang kan merayu” merupakan pengganti dari kata “ku tahu”, “kalau sampai waktuku” dapat berarti “kalau aku mati”, “tak perlu sedu sedan” dapat berarti “tak ada gunanya kesedihan itu”, “tidak juga kau” dapat berarti “ tidak juga engkau anakku, istriku, atau kekasihku”.
6.       Pengimajian didalam sajak terdapat beberapa pengimajian, diantaranya “ku mau tak seorang kan merayu” dan “tak perlu sedu sedan itu” berarti imaji pendengaran,”biar peluru menembus kulitku” dan “hingga hilang pedih perih” berarti imaji rasa.
7.       Kata konkret dalam puisi “AKU” secara makna tidak menggunakan kata-kata yang terlalu sulit untuk dimaknai, bukan berarti dengan kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas. Sesuai dengan judul sebelumnya, puisi tersebut menggambarkan tentang semangat dan tak mau mengalah, seperti chairil itu sendiri.
8.       Persifikasi ritme dalam puisi “AKU” ini terdengar menguat karena ada pengulangan bunyi (rima) pada huruf vokal ”U” dan ”I ”. pada vokal “U” pada larik pertama dan kedua pengulangan berseling vokal a-u-a-u, di larik pertama “kalau sampai waktuku” larik kedua “kumau tak seorang kan merayu” dan “tidak juga kau”. Pengulangan vokal “I” contohnya, “luka dan bisa kubawa berlari lari”,  “hingga hilang pedih perih”, “dan aku akan lebih tidak peduli”, dan “aku mau hidup seribu tahun lagi”.
9.       Sarana retorika dalam sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan dengan sarana retorika yang berupa hiperbola. Dikombinasi dengan ulangan, serta diperkuat oleh ulangan bunyi vokal “A” dan “U”, dan ulangan bunyi lain serta persajakkan akhir. Contoh hiperbola pada puisi tersebut yaitu  “aku ini binatang jalang” , “dari kumpulannya terbuang”, “biar peluru menembus kulitku”, “aku tetap meradang menerjang”, dan “aku ingin hidup seribu tahun lagi”, Gaya tersebut disertai ulangan i-i yang lebih menambah intensitas. “luka dan bisa kubawa berlari lari”, “hingga hilang pedih perih”, “dan aku akan lebih tidak peduli”, dan “aku mau hidup seribu tahun lagi” merupakan penonjolan dari hiperbola.

Untuk identifikasi puisi selanjutnya yaitu berjudul “GADIS PEMINTA-MINTA” tunggu postingan-postingan yang akan datang!

Itu tadi sedikit ulasan dari Six New Revolution mengenai Identifikasi Puisi, Semoga informasi ini bermanfaat buat anda. Jika terdapat kesalahan kata ataupun ejaan yang kurang tepat mohon dimaafkan. Segala kritik dan saran silakan anda masukan pada kolom komentar yang sudah tersedia dibawah ini. Six New Revolution akan berusaha secepat mungkin menanggapi segala tanggapan baik kritik atau saran dari anda.

Wasalamualaikum WR,WB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar